Hujan. Nampaknya ia enggan untuk segera melesat turun ke bumi, namun harus. Setitik demi setitik ia jatuh, lalu deras tak tertahan. Kemudian mengukir jeda, entah untuk apa. Sebentar ia riuh seperti rindu. Menghentak-hentak seperti degup jantung yang timbul kala mencinta. Sebentar kemudian ia diam. Seperti patah tak terperi ketika ditinggal pergi.
Aku lelah berbicara tentang mimpi, apalagi yang ditulis bersama orang lain. Terakhir aku coba percaya, aku malah diminta berhenti. Bahkan apa salahku pun aku tidak paham. Yang aku tahu, mimpiku sudah terlanjur tinggi untuk kemudian dibiarkan hangus begitu saja. Mencoba merangkak kembali untuk menggapai, aku malah dipukul jauh ke belakang. Sebenarnya, apa memang pernah ada mimpi yang ingin kau wujudkan atau aku hanya satu diantara persinggahan-persinggahan yang pernah kau diami?
Aku lelah berbicara tentang pilu, apalagi yang berhubungan denganmu. Terakhir aku bicara, kamu seolah mengerti, tapi malah mengulangi. Mungkin bagimu jika bukan kau yang mengalami, maka tidak perlu kau pelajari dan pahami. Sementara aku berulang kali retak untuk hal yang sama. Semestinya ketika ku bilang aku baru sembuh, kau catat baik-baik dengan tinta merah.
Aku lelah berbicara. Sebanyak aku bicara, sebanyak itu pula hatiku remuk. Sebanyak aku percaya, sebanyak itu pula aku disudahi. Terlalu sakit bagiku untuk melihatmu bergerak maju, namun aku terdewakan oleh sebuah perasaan yang lebih senang mengalah katanya.
Janjiku untuk membuatmu bahagia, dengan atau tanpaku. Janjiku untuk melihatmu tersenyum, karena atau bukan karenaku. Janjiku untuk tidak menyakitimu, sekarang ataupun nanti, sama saja.
Yogyakarta, 20 Maret 2014
I miss you.
Apa sih gunanya hari ini dan beberapa hari yang akan datang? Berkali-kali aku menghadiri acara wajib seperti ini, aku tidak pernah bisa menarik kesimpulan apa gunanya membuang-buang waktu untuk hal-hal seperti ini. Selalu ada ketidakseimbangan kekuatan dalam hari-hari seperti ini. Satu pihak dengan arogansi yang dibuat-buat, mencoba menguatkan kesan tegas dan keras. Sementara satu pihak diposisikan sebagai "penerima" sikap arogan yang disengaja itu. Ah, aku muak dengan konsep-konsep seperti ini.
Tapi, itu siapa?
Sekian Hari Selanjutnya
Oh, dia. Memangnya apa hebatnya dia? Aku tidak kenal dia.
Berselang Beberapa Bulan
Iya, aku tahu dia. Dia sering muncul dalam hidupku, tapi dia tidak punya hubungan langsung dengan hidupku. Tapi aku akui, menarik melihatnya "hidup". Tapi tidak ah, dia terlalu jauh untuk bisa digapai. Dunia kami sangat berbeda.
Sekitar Setahun Setelahnya
Dia kah? Wah, menarik sekali. Apa kubilang. Dunia kami berseberangan, dia sangat hebat.
Kurang Lebih Setahun Setengah
Ada dia. Mungkin ini jalannya agar aku bisa mengenalnya.
Setahun Setengah Lebih Beberapa Waktu
Dia masih terlalu jauh. Aku tidak yakin dia pernah ingat bahwa ada aku dalam hidupnya. Apa dia pernah ingat namaku? Aku rasa tidak. Dia orang hebat, aku biasa-biasa saja. Dan lagi, dia punya orang.
Lewat Sedikit Dari Dua Tahun
Hah, dia sendiri? Bukankah sebelumnya kudengar mereka sangat membuat orang bangga dan senang? Ya sudahlah. Toh, dia tidak akan melihat padaku. Aku ini siapa. Aku punya nyali sebesar apa untuk mengharapkan orang se-"besar" dia.
Dua Tahun Lebih Beberapa Bulan
Beberapa kali dia masuk dalam topik pembicaraanku dan teman baikku. Aku tetap tidak yakin dia pernah menyadari keberadaanku dalam hidupnya. Dan lagi sepertinya, aku bukan tipe orang yang dia cari, dan dia bukan tipe orang yang aku cari. Tidak ah. Kami tidak akan cocok. Aku pasti kalah dengannya.
Dua Tahun Lebih Beberapa Bulan Lebih Banyak
Sahabatku: "Hai, ada yang mau kenalan."
Aku: "Siapa?"
Sahabatku: "Dia."
Apa? Aku mimpi? Dia?
Hampir Dua Tahun Setengah
"Aku sudah mencari beberapa waktu, dan aku menemukan kamu. Mau kah?"
Ya, dia, padaku. :)
Doaku terjawab. Ternyata aku salah. Dia yang terbaik. Dia yang memenuhi semua yang aku minta pada Tuhan. Dia, pasti dia.
"Ya." kataku mantap.
Hampir Dua Tahun Setengah Lewat Beberapa Hari
Ada apa ini? Benarkah kata orang bahwa fase ini tidak seindah fase sebelumnya? Ah tidak, mungkin dia terlalu sibuk. Aku harus bisa paham. Bukankah untuk itu dia memintaku?
Hampir Dua Tahun Setengah Lewat Beberapa Hari Lebih Banyak
Sebenarnya sebesar apa masalahnya aku tidak pernah tahu. Serumit apa keputusan yang harus dia ambil, aku tidak pernah tahu. Yang aku tahu, aku benar-benar kalah. Dia pergi.
Dua Tahun Setengah
Bohong jika aku bilang tidak peduli. Aku selalu berdoa bisa melihat senyumnya suatu hari nanti, dan tetap aku yang jadi alasannya tersenyum. Aku selalu berdoa semoga aku bisa kembali beradu mata dengan sepasang mata tajam miliknya. Seperti yang kami lakukan pada pertemuan pertama dan terakhir kami, masing-masing menyelami dan berusaha mencerna apa yang ada dalam benak ketika dua pasang mata itu bertemu. Aku tidak pernah tahu maknanya, sampai sekarang.
Hari Ini
Aku menyadari keberadaanmu sejak pertama kali kita dipertemukan. Aku di antara banyak pihak yang sengaja diposisikan kalah, dan kau sebagai pihak yang sengaja dibuat arogan. Apa yang pernah terjadi di antara kita, sampai sekarang masih seperti mimpi. Aku masih tidak tahu apa yang membuatmu sudi untuk mampir, dan apa yang mendorongmu kembali melanjutkan perjalanan. Yang aku tahu, hatiku merah sejak kutemukan namamu ada di dalamnya.
1. Jangan takut mengaku salah, karena berbuat salah itu sangat manusiawi.
2. Jangan takut kehilangan, karena kamu jadi lebih bisa menghargai apa yang telah hilang.
3. Jangan takut minta tolong, karena kehebatan manusia ada batasnya.
4. Jangan takut sendirian, karena di saat sendiri kamu bisa mendengarkan suara hati kamu yang paling sejati.
5. Jangan takut kesepian, karena itu bagian dari kehidupan dan sinyal peringatan untuk membangun hubungan erat dengan manusia lain.
6. Jangan takut patah hati, karena rasa sakitnya bisa membuat kamu lebih mengenal dan menyayangi dirimu sendiri.
7. Jangan takut bertanya, karena pertanyaan bisa membuka dialog dan memberi kamu pengetahuan baru yang mungkin saja menguntungkan kamu.
8. Jangan takut meminta hak, karena siapa lagi yang akan memperjuangkan hidup kamu selain dirimu sendiri?
9. Jangan takut gagal, karena kegagalan akan menempa kamu menjadi lebih tangguh.
10. Jangan takut punya musuh, karena musuh membuat kamu terus waspada. Lebih baik kamu takut pada teman palsu.
11. Jangan takut bilang "helooo", pada orang asing sekalipun, karena bisa jadi itu awal dari sebuah persahabatan yang indah.
12. Jangan takut berpisah, karena perpisahan perlu untuk mempersiapkan perjumpaan baru, percintaan baru, dan pengalaman baru.
Sumber: Wonderteen magazine 305/January/XX/2014 halaman 66-67.
Honestly, saya tidak terlalu setuju. Beberapa kali saya pernah berpikir. Kenapa sebagian orang kadang lebih senang menghabiskan liburan bersama pacarnya dibandingkan dengan keluarganya? Bukankah keluarga adalah orang-orang yang akan selalu menerima apa adanya? Kenapa ketika pacar marah kita mati-matian berusaha minta maaf sedangkan ketika ayah atau ibu kita marah, kadang kita biasa aja, malah balik marah. Kenapa kadang kita rela mati-matian memperbaiki diri biar orang yang kita suka itu bisa suka balik sama kita, sementara ketika ayah atau ibu minta kita berubah, kita menolak?
Pemikiran saya lalu bermuara pada satu kesimpulan: Karena cinta pada orang tua itu bukan pilihan, sementara cinta pada lawan jenis itu pilihan, meskipun kadang kita melakukan pilihan itu tanpa sadar.
Kita nggak bisa memilih kan orang tua mana yang mau kita cintai, atau lebih sayang mana ke ayah atau ke ibu? Karena cinta pada mereka itu bukan pilihan, tapi memang sejak kita lahir ke dunia, kita sudah di “setting” agar cinta sama mereka. Tentu kondisi ini terjadi ketika hubungan kita dengan orang tua berjalan baik-baik saja. No violence, no neglect. Bahkan kadang, anak-anak yang mengalami kekerasan dan pengabaian dari orang tuanya pun masih tetap cinta sama orang tuanya. Walaupun mungkin kadarnya berkurang. But still, in the deepest of their heart, they love their parents, but may be they’re too hurt to admit that they love them.
Berbeda dengan cinta pada pacar. Even love at first sight is a choice. Kalaulah cinta pada pandangan pertama itu bukan pilihan, kita pasti jatuh cinta pada semua orang kan? Hahaha. Sebab kita punya standar tentang orang seperti apa yang bisa membuat kita jatuh cinta, tipe wajah seperti apa yang kita suka, dan hal-hal lain itulah maka saya berani bilang bahwa “Love at first sight is a choice.”
Kenapa kita lebih rela berubah demi mendapatkan seseorang daripada karena orang tua kita yang meminta? Balik lagi karena cinta pada lawan jenis itu adalah pilihan. Pilihan tidak hanya dibuat oleh satu pihak yang bermain cinta, tapi oleh kedua belah pihak. Kita misalkan Budi jatuh cinta pada Wati. Budi memilih jatuh cinta pada Wati karena Wati cantik. Tapi Wati tidak memilih jatuh cinta pada Budi karena Budi pemalas. Kalau Budi tidak rela mengubah sifat pemalasnya demi mendapatkan Wati, maka mereka tidak akan bisa saling jatuh cinta. Sesimpel itu. Bahkan jika Budi dan Wati akhirnya jadian lalu ada sebuah sifat Wati yang tidak disukai Budi dan Wati tidak mau mengubahnya, maka Budi bisa saja memilih meninggalkan Wati.
Tidak begitu dengan orang tua. Cinta antara orang tua dan anak itu bukan sebuah pilihan. Sejelek apapun anak, orang tua akan menerima. Kalau ada orang tua yang tidak mau menerima anaknya lagi, itu pasti karena mereka sudah terlalu sakit hati untuk menerima kembali anaknya. Tapi pada dasarnya mereka sangat merindukan anaknya, masih sangat mencintai anaknya dan berharap anaknya kembali menjadi seperti yang mereka inginkan.
Ada satu hal menarik lainnya. Dalam ajaran Islam, ketika seorang perempuan menikah, maka orang yang pertama kali harus dia minta restunya dan dia patuhi adalah suaminya. Mengapa? Menurut saya, karena Allah Maha Tahu bahwa cinta pada suami atau pada istri itu adalah pilihan. Jika Budi dan Wati menikah lalu Wati punya kebiasaan boros beli barang bermerk tanpa memperhatikan penghasilan keluarga, Budi bisa saja menceraikan Wati, jika memang pilihannya begitu. Oleh karena itu Allah menciptakan peraturan bahwa ridho Allah itu tergantung pada ridho suami bagi perempuan yang sudah menikah. Karena cinta pada pasangan adalah pilihan.
Ini hanya satu di antara banyak definisi cinta yang saya pahami. Definisi sebenarnya tentang cinta itu sangat banyak dan tidak akan habis jika harus dicari satu per satu. Ada yang bilang cinta itu persahabatan, cinta itu proses, cinta itu karena terbiasa, dan lain-lain. Semua itu tergantung dari sisi mana kita melihatnya, definisi cinta seperti apa yang kita anut.
Hahaha.
Selamat siang. Semoga kalian berbahagia.
:)

