selamat malam.
ketika saya memutuskan untuk menciptakan blog ini, sebenarnya saya sudah berencana akan meminimalisir tulisan-tulisan galau berbau cinta. saya ingin sekali blog ini jadi blog profesional. tapi ternyata masih sulit.
ya sudahlah. apa boleh buat.
bukankah saya bilang, saya menulis untuk diri saya sendiri? kenapa harus pusing ini blog mau jadi apa. hahaha.
kemarin sore, membelah jalanan jogja yang cukup ramai di dalam mobil sendirian, saya jadi bisa berpikir banyak. kebetulan kemarin temanya "kebahagiaan". dimulai dengan kalimat "Kalau orang lain tidak bisa memberikan kebahagiaan ke kamu, kenapa kamu ga ciptakan kebahagiaamu sendiri?"
benar juga.
selama ini, saya susah payah berharap kepada orang lain agar bisa membuat saya bahagia. teman, laki-laki, orang tua, siapapun itu. tetap saja tidak pernah terpenuhi. lama-lama saya jadi aneh. saya cepat sekali kecewa, cepat sekali jatuh, cepat sedih.
belakangan, saya rajin beli mawar ke toko bunga. banyak orang tanya "dalam rangka apa yu?" atau "buat apa yu?" atau malah "beli sendiri banget nih yu? ga ada yang beliin?". terus terang saya bingung, apa yang salah dari beli bunga sendiri, dipajang sendiri, dipandangi sendiri? harusnya ga ada. toh, rumah-rumah yang setiap hari ada bunga juga belinya sendiri, ga selalu karena dikasih orang. saya kan ingin memberi kebahagiaan pada diri saya sendiri. salah satu caranya adalah dengan beli bunga segar, walaupun ga tiap hari.
belakangan pula, saya mencoba agak menjauh dari orang-orang yang biasanya saya harapkan. bukannya sombong, tapi saya berusaha sebisa mungkin untuk tidak terikat batin sama mereka, sehingga saya tidak perlu berekspektasi tinggi. mereka protes, tapi ya terserahlah. saya melindungi kesejahteraan diri saya. saya galau, mereka protes. saya cari cara agar saya bahagia, protes juga. sudahlah bodo amat. alhamdulillah, saya jadi tidak banyak berharap kepada mereka.
intinya, saya sedang berusaha keras untuk tidak menggantungkan harapan kepada siapapun.
tapi, ada satu orang yang sama sekali tidak bisa saya tinggalkan atau saya hapuskan harapannya. ada satu pengecualian.
hahaha. yah, dia, siapa lagi. untuk dia, saya berani ambil resiko terbesar yang bisa menghancurkan semua usaha penguatan diri yang telah saya lakukan susah payah. saya tahu, resikonya besar, berat, dan saya yakin jika itu terjadi, jatuhnya saya tidak akan tanggung-tanggung. tapi ya bodo amat, saya ambil resiko itu. saya tetap berharap sampai saya tahu saya sudah benar-benar tidak lagi bisa berharap. mau dikata bodoh, mau dimarahin "ngapain kamu nungguin, kamu harus lupa", saya tidak akan berhenti.
saya tidak akan berhenti.
dia pengecualian. titik.
Hai. :)
Terimakasih atas balasan singkatmu yang ramah hari ini. Itu sudah lebih dari cukup. Alhamdulillah kamu baik-baik saja. Alhamdulillah. Itu juga sudah cukup bagiku. Terimakasih Ya Rabb sudah melindungi dia saat aku tidak diizinkan unuk melindunginya.
Tuan, aku tahu apa yang mau kamu bilang. Aku tahu kamu pasti minta aku untuk berhenti menunggu. Tapi sepertinya aku tidak bisa. Entah, ya mungkin memang aku ini bodoh kali, terlalu diperbudak oleh perasaan. Tapi aku tidak peduli selama kamu yang aku perjuangkan. Kamu pantas kok untuk aku perjuangkan. Aku ini keras kepala. Dan sayangnya, untuk hal ini juga aku keras kepala. Ya mungkin kamu sekarang juga sudah sama orang lain, haha aku sama sekali tidak tahu. Tapi selama berita resminya belum ada, aku tidak akan berhenti, Tuan.
Jaga dirimu baik-baik, selesaikan apa yang harus kau selesaikan. Jika izin sudah turun, cepatlah kembali. Kamu tahu dimana harus mencariku.
- Nona
Hujan. Nampaknya ia enggan untuk segera melesat turun ke bumi, namun harus. Setitik demi setitik ia jatuh, lalu deras tak tertahan. Kemudian mengukir jeda, entah untuk apa. Sebentar ia riuh seperti rindu. Menghentak-hentak seperti degup jantung yang timbul kala mencinta. Sebentar kemudian ia diam. Seperti patah tak terperi ketika ditinggal pergi.
Aku lelah berbicara tentang mimpi, apalagi yang ditulis bersama orang lain. Terakhir aku coba percaya, aku malah diminta berhenti. Bahkan apa salahku pun aku tidak paham. Yang aku tahu, mimpiku sudah terlanjur tinggi untuk kemudian dibiarkan hangus begitu saja. Mencoba merangkak kembali untuk menggapai, aku malah dipukul jauh ke belakang. Sebenarnya, apa memang pernah ada mimpi yang ingin kau wujudkan atau aku hanya satu diantara persinggahan-persinggahan yang pernah kau diami?
Aku lelah berbicara tentang pilu, apalagi yang berhubungan denganmu. Terakhir aku bicara, kamu seolah mengerti, tapi malah mengulangi. Mungkin bagimu jika bukan kau yang mengalami, maka tidak perlu kau pelajari dan pahami. Sementara aku berulang kali retak untuk hal yang sama. Semestinya ketika ku bilang aku baru sembuh, kau catat baik-baik dengan tinta merah.
Aku lelah berbicara. Sebanyak aku bicara, sebanyak itu pula hatiku remuk. Sebanyak aku percaya, sebanyak itu pula aku disudahi. Terlalu sakit bagiku untuk melihatmu bergerak maju, namun aku terdewakan oleh sebuah perasaan yang lebih senang mengalah katanya.
Janjiku untuk membuatmu bahagia, dengan atau tanpaku. Janjiku untuk melihatmu tersenyum, karena atau bukan karenaku. Janjiku untuk tidak menyakitimu, sekarang ataupun nanti, sama saja.
Yogyakarta, 20 Maret 2014
I miss you.
Apa sih gunanya hari ini dan beberapa hari yang akan datang? Berkali-kali aku menghadiri acara wajib seperti ini, aku tidak pernah bisa menarik kesimpulan apa gunanya membuang-buang waktu untuk hal-hal seperti ini. Selalu ada ketidakseimbangan kekuatan dalam hari-hari seperti ini. Satu pihak dengan arogansi yang dibuat-buat, mencoba menguatkan kesan tegas dan keras. Sementara satu pihak diposisikan sebagai "penerima" sikap arogan yang disengaja itu. Ah, aku muak dengan konsep-konsep seperti ini.
Tapi, itu siapa?
Sekian Hari Selanjutnya
Oh, dia. Memangnya apa hebatnya dia? Aku tidak kenal dia.
Berselang Beberapa Bulan
Iya, aku tahu dia. Dia sering muncul dalam hidupku, tapi dia tidak punya hubungan langsung dengan hidupku. Tapi aku akui, menarik melihatnya "hidup". Tapi tidak ah, dia terlalu jauh untuk bisa digapai. Dunia kami sangat berbeda.
Sekitar Setahun Setelahnya
Dia kah? Wah, menarik sekali. Apa kubilang. Dunia kami berseberangan, dia sangat hebat.
Kurang Lebih Setahun Setengah
Ada dia. Mungkin ini jalannya agar aku bisa mengenalnya.
Setahun Setengah Lebih Beberapa Waktu
Dia masih terlalu jauh. Aku tidak yakin dia pernah ingat bahwa ada aku dalam hidupnya. Apa dia pernah ingat namaku? Aku rasa tidak. Dia orang hebat, aku biasa-biasa saja. Dan lagi, dia punya orang.
Lewat Sedikit Dari Dua Tahun
Hah, dia sendiri? Bukankah sebelumnya kudengar mereka sangat membuat orang bangga dan senang? Ya sudahlah. Toh, dia tidak akan melihat padaku. Aku ini siapa. Aku punya nyali sebesar apa untuk mengharapkan orang se-"besar" dia.
Dua Tahun Lebih Beberapa Bulan
Beberapa kali dia masuk dalam topik pembicaraanku dan teman baikku. Aku tetap tidak yakin dia pernah menyadari keberadaanku dalam hidupnya. Dan lagi sepertinya, aku bukan tipe orang yang dia cari, dan dia bukan tipe orang yang aku cari. Tidak ah. Kami tidak akan cocok. Aku pasti kalah dengannya.
Dua Tahun Lebih Beberapa Bulan Lebih Banyak
Sahabatku: "Hai, ada yang mau kenalan."
Aku: "Siapa?"
Sahabatku: "Dia."
Apa? Aku mimpi? Dia?
Hampir Dua Tahun Setengah
"Aku sudah mencari beberapa waktu, dan aku menemukan kamu. Mau kah?"
Ya, dia, padaku. :)
Doaku terjawab. Ternyata aku salah. Dia yang terbaik. Dia yang memenuhi semua yang aku minta pada Tuhan. Dia, pasti dia.
"Ya." kataku mantap.
Hampir Dua Tahun Setengah Lewat Beberapa Hari
Ada apa ini? Benarkah kata orang bahwa fase ini tidak seindah fase sebelumnya? Ah tidak, mungkin dia terlalu sibuk. Aku harus bisa paham. Bukankah untuk itu dia memintaku?
Hampir Dua Tahun Setengah Lewat Beberapa Hari Lebih Banyak
Sebenarnya sebesar apa masalahnya aku tidak pernah tahu. Serumit apa keputusan yang harus dia ambil, aku tidak pernah tahu. Yang aku tahu, aku benar-benar kalah. Dia pergi.
Dua Tahun Setengah
Bohong jika aku bilang tidak peduli. Aku selalu berdoa bisa melihat senyumnya suatu hari nanti, dan tetap aku yang jadi alasannya tersenyum. Aku selalu berdoa semoga aku bisa kembali beradu mata dengan sepasang mata tajam miliknya. Seperti yang kami lakukan pada pertemuan pertama dan terakhir kami, masing-masing menyelami dan berusaha mencerna apa yang ada dalam benak ketika dua pasang mata itu bertemu. Aku tidak pernah tahu maknanya, sampai sekarang.
Hari Ini
Aku menyadari keberadaanmu sejak pertama kali kita dipertemukan. Aku di antara banyak pihak yang sengaja diposisikan kalah, dan kau sebagai pihak yang sengaja dibuat arogan. Apa yang pernah terjadi di antara kita, sampai sekarang masih seperti mimpi. Aku masih tidak tahu apa yang membuatmu sudi untuk mampir, dan apa yang mendorongmu kembali melanjutkan perjalanan. Yang aku tahu, hatiku merah sejak kutemukan namamu ada di dalamnya.

