In poetical post random ramble
Posted on Friday, May 12, 2017
Brows:
Wardah
Eyebrow Pencil (Black)
Catrice
Liquid Camouflage Concealer (020 Light Beige)
Eyes:
Wet n
Wild Megaglo Contouring Palette (Dulche De Leche)
Makeup
Revolution Iconic Pro 2 Palette
Morphe
X KatheenLights Palette
Sleek
I-Divine Enchanted Forest
Maybelline
Lash Sensational Mascara
Make
Over Eyeliner Pencil (Black Jack)
Maybelline
Hyper Sharp Power Black
X-Pert
Natural Eyelashes (01A)
Skin:
L.A
Girl Pro Conceal (Orange Corrector)
Catrice
Liquid Camouflage Concealer (020 Light Beige)
Wet n
Wild Megaglo Contouring Palette (Dulche De Leche)
Elf
Baked Highlighter (Moonlight Pearl)
2. Tentang
Kamu
Aku
tidak pernah tahu mengapa kita ditakdirkan bertemu jika pada akhirnya kita
tidak pernah ditakdirkan untuk bersama. Tidak terhitung berapa waktu yang
kuhabiskan mempertanyakan semua teka-teki itu. Makna dari senyummu, atau kerut
di dahimu, tak pernah kau bagi denganku.
Mulanya
memang tidak seperti itu. Kita pernah sangat bahagia berada di dekat satu sama
lain. Kita pernah jadi dua manusia yang paling beruntung karena saling
menemukan. Bagiku, kau adalah kebahagiaan. Bukan, kau ibarat senyum dan tawa,
simbol dari kebahagiaan itu sendiri. Bagiku, duduk bersamamu adalah tempat
dimana puncak kebahagiaan bisa terjadi. Kau adalah orang satu-satunya yang
selalu membuatku tertawa lepas, orang yang membuatku bisa jadi diriku sendiri.
Suatu
hari kau pernah berjanji akan selalu ada untukku.
“Kalau
bisa aku akan temani kamu 24 jam 7 hari.” Katamu waktu itu, 3 tahun lalu.
Tapi
itu tidak pernah terjadi. Janji itu hanya bertahan sebulan sebelum pada
akhirnya aku merasa kau memberi jarak di antara kehadiran kita berdua. Mungkin
semuanya akan jadi lebih mudah jika kau punya alasan. Tapi sekali lagi, kau
tidak pernah berbagi apapun. Bagimu perasaanku tidak pernah penting. Kau tidak
pernah bertanya, dan tidak suka ditanya tentang perasaan. Apa salah jika
akhirnya aku yang memutuskan untuk pergi?
Mulanya
aku pikir aku adalah orang yang paling mengenalmu. Aku pikir, aku lebih
mengenal dirimu dibanding aku mengenal diriku sendiri. Aku pikir kita memang
diciptakan untuk menemukan yang tidak pernah kita sadari dalam diri kita
masing-masing. Aku lebih banyak memperhatikanmu dibandingkan aku memperhatikan
diriku sendiri. Banyak hal dalam diriku yang tidak pernah aku sadari, tapi bisa
dengan mudah kau temukan. Dan tidak terbatas pula jumlah kemungkinan yang bisa
aku temukan dalam dirimu. Kemungkinan yang bahkan tidak pernah terlintas di
benakmu.
Aku
selalu memberi perhatian pada setiap detik yang aku habiskan denganmu. Aku
ingat setiap irama jantungmu saat kau senang, sedih, bahkan marah. Aku paham
makna dari setiap deru napasmu. Tenang, lemah, tergesa, semuanya aku pahami
dengan baik, lebih dari kau memahami dirimu sendiri. Tapi semua ingatanku
tentangmu tidak berarti aku memahami jalan pikiran dan hatimu. Kedua tempat itu
adalah tempat asing yang selalu kau tutup rapat dariku.
Aku
ingat sekali, sebelum kau tanpa sinyal memutuskan untuk memberi jarak di antara
kita, kita pernah duduk di sudut rumahku. Di sebuah sofa yang sengaja
kuletakkan di pinggir jendela. Punggung kita saling bersandar satu sama lain, kau
menghadap ke utara dan aku ke selatan. Kita tidak berbicara sama sekali, hanya
membaca buku favorit masing-masing dengan headset
yang terhubung pada ponselmu. Saling mendengarkan detak jantung sambil
berusaha menerjemahkan kalimat dalam buku masing-masing.
The
Beatles. Lagu-lagu favoritmu
sepanjang masa kau bilang. Jangan salah, aku juga suka The Beatles, tapi tidak
sebesar kau menyukainya. Awalnya kau asyik bernyanyi, sampai-sampai aku
mengomel karena aku tidak bisa membaca dengan fokus. Dan kau hanya membalas
dengan tawa jahilmu. Apakah pernah ada orang yang bilang, kau punya tawa yang
indah. Hidungmu selalu berkerut saat kau tertawa, dan aku menyukainya. Kau
punya suara yang nyaman didengar, dan aku rela menukar apapun agar bisa
mendengarmu bernyanyi kembali. Good old
days.
Kau
selalu bisa membuatku tertawa. Kau juga yang selalu bisa membuatku jatuh
berulang-ulang. Dan aku selalu punya kekuatan untuk berdiri dan kembali
merentangkan tanganku untuk memelukmu kembali, tidak peduli berapa banyak air
mata yang telah kering di pipiku. Aku mencintaimu sebanyak detak jantung yang
berdegup selama aku mengenalmu. Sejak dulu hingga sekarang, kau masih jadi
satu-satunya nama yang digemakan dalam ruang di dadaku. Rahagi Magani Warabrata.
1. Pertemuan Pertama
Rahagi, itu namamu. Satu nama, enam huruf. Tapi kekuatannya mampu membuat persendianku lemah selama bertahun-tahun. Aku tidak pernah tahu apa yang tersembunyi di balik mata sendu milikmu. Pun kau tak pernah dengan jelas mengungkapkan apa yang jadi kemauanmu. Kau lebih senang diam, berteka-teki, meninggalkanku dalam tanda tanya besar tak berujung yang tak pernah aku temui jawabannya sampai saat ini. Siapa aku dalam hidupmu?
Rahagi.
Kita bertemu di kesibukan kota. Di sebuah kafetaria yang meski kecil, namun selalu memberikan tempat pada jiwa-jiwa yang ingin menyepi. Saat itu pagi masih belia, aku tengah terburu-buru mengejar jam masuk kantor hingga tak sengaja gelas kopi kita tertukar. Ponselku yang tidak berhenti berdering mengacuhkanku pada fakta bahwa kopiku yang seharusnya panas, ternyata dingin. Sampai-sampai indera perabaku pun terlambat memberi peringatan pada otakku bahwa aku salah ambil gelas kopi. Dan aku baru menyadari kesalahanku ketika aku sudah ada di depan gedung kantor. Dengan panik aku berbalik arah dan disanalah engkau, Rahagi, tepat di depan mataku, dengan kopiku.
“Nayaka?” katamu dengan nada bertanya.
Masih di depanmu, perhatianku saat itu terpecah antara tenggelam dalam mata sendu milikmu dan kebingungan karena ada orang asing yang memanggil namaku. Dahiku berkerut.
“Kok tau nama saya?” tanyaku sedikit curiga.
Kau tersenyum. Tidak ada yang spesial dari senyummu. Tapi otakku memilih untuk mengingat senyum itu baik-baik tanpa permisi sejak pertama kali aku berkenalan dengannya. Masih dengan mata sendumu, kau jawab.
“Kopi kita tertukar. Bukannya kamu pesan hot cappucino?”
Hah? Hanya itu respon yang saat itu yang ada dalam pikiranku. Otakku masih belum bekerja sepenuhnya. Aku baru tersadar ketika kau tunjukkan namaku yang tertulis pada permukaan gelas kopi yang kau pegang. Aku terkesiap, setengah bagian dari diriku bersyukur karena aku tidak perlu berjalan kembali ke kafetaria tadi dan setengahnya lagi malu luar biasa.
“Ya Tuhan maaf, saya terburu-buru jadi saya salah ambil.” Jawabku sambil menyerahkan kopimu yang jelas-jelas sedingin es. Lagi-lagi kau tersenyum.
“Bukan masalah kok. Lagipula kantormu searah dengan tujuan saya. Dari tadi saya panggil kamu tapi kamu terlalu sibuk menelepon.” Jawabmu yang sampai saat ini masih membuatku malu. Bagaimana bisa aku tidak mendengar panggilanmu.
“Sekali lagi maaf ya, dan terima kasih sudah mengantar kopi saya, Mas...?” aku melirik nama yang tertulis pada gelas kopi yang sudah kuserahkan kepadamu.
“Rahagi.” Potongmu cepat.
“Ah ya, Rahagi.” Lagi-lagi aku dibuat malu. “Oke kalau begitu, mohon maaf saya permisi dulu, saya sudah terlambat.” Sambungku.
“Oke silahkan.” Jawabmu singkat seraya mengisyaratkan padaku untuk mendahuluimu.
Aku mengangguk dan membalikkan badan. Berjalan cepat menaiki tangga sebelum akhirnya masuk lewat pintu kaca besar di depanku. Bodoh sekali, mengapa aku tidak bisa merasakan bedanya panas dan dingin. Pagi itu memang semuanya sedang sangat membingungkan. Rekan kerjaku yang bolak-balik meneleponku sejak aku membeli kopi sedang panik karena berkas yang seharusnya ia presentasikan siang ini raib entah kemana. Dan aku sebagai teman satu tim-nya ikut-ikutan panik karena berkas itu hasil kerja bersama. Aku tidak sempat memperhatikan kemana kau pergi setelah aku meninggalkanmu di depan gedung kantor. Yang aku tahu, pertemuan itu bukan akhir dari kisah kita. Malah pertemuan itu menjadi awal semua ini terjadi.
Eyes:
Wardah Eyebrow Pencil (Black)
Morphe X Kathleenlights Palette
Maybelline Hypersharp Power Black
Maybelline The Magnum Barbie Mascara
Elise Tokyo Series Tapered Collection (66)
Face:
Smashbox Photofinish Foundation Primer
L.A Girl Pro HD Concealer (Green Corrector, Orange
Corrector, Toast)
Revlon Colorstay Foundation (300 Golden Beige)
Catrice Liquid Camouflage Concealer (020 Light Beige)
Make Over Silky Smooth Translucent Powder (02 Rosy)
City Color Contour & Define Palette
Wet n Wild Megaglo Contouring Palette (Dulce de Leche)
Maybelline Clear Smooth Original Pressed Powder (03 Natural)
Elf Baked Highlighter (Moonlight Pearl)
Emina Cheeklit (Cotton Candy)
Lips:
Make Over Intense Matte Lip Cream (008 Libertine)
Eyes:
Wardah Eyebrow Pencil (Black)
Catrice Liquid Camouflage Concealer (020 Light Beige)
Mizzu Eye Base Essential
Wardah Eyeshadow G
Makeup Revolution Iconic Pro 2 Palette
Sleek I-Divine Palette (Enchanted Forest)
Make Over Eyeline Pencil (Black Jack)
Maybelline The Magnum Barbie Mascara
Elise Tokyo Series Tapered Collection (66)
Face:
Smashbox Photofinish Foundation Primer
Revlon Colorstay Foundation (300 Golden Beige)
Catrice Liquid Camouflage Concealer (020 Light Beige)
Make Over Silky Smooth Translucent Powder (02 Rosy)
L.A. Girl Pro Conceal (Toast)
City Color Glowing Complexion Illuminating Cream
City Color Contour & Define Palette
Wet n Wild Megaglo Contouring Palette (Dulce de Leche)
Emina Cheeklit (Cotton Candy)
Lips:
Revlon Super Lustrous Lipstick (131 Ginger Rose)
Revlon Colorstay Lipcolor (232 Sumptuous Sienna)
Revlon Super Lustruos Lipstick (535 Rum Raisin)
Nails:
Silky Girl Ever Glossy Nail Color (Cupid Pink)
Eyes:
Maybelline Fashion Brow Cream Pencil (Dark Grey)
Catrice Liquid Camouflage Concealer (020 Light Beige)
Make Over Silky Smooth Translucent Powder (02 Rosy)
City Color Contour & Define Powder (Contour & Bronzer)
Inez Color Contour Plus Eye Shadow Collection (10 Vienna)
Maybelline The Magnum Barbie
Catrice Made to Stay Inside Eye Highlighter Pen (010 In The Mood for Nude)
Face:
Catrice Prime & Fine Smoothing Refiner
Wardah Everyday BB Cream (Natural)
Catrice Liquid Camouflage Concealer (020 Light Beige)
City Color Glowing Complexion Illuminating Cream
Make Over Silky Smooth Translucent Powder (02 Rosy)
City Color Contour & Define Powder (Contour & Bronzer)
Wet n Wild Megaglo Contouring Palette (E7491 Dulce De Leche)
Maybelline Clear Smooth Original Pressed Powder (03 Natural)
Emina Cheeklit (Bitter Sweet)
L.A Girl Pro Conceal (Toast, for the freckles)
Lips:
Revlon Super Lustrous Lipstick (240 Sandalwood Beige)
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)













