Showing posts with label poetical post. Show all posts
Showing posts with label poetical post. Show all posts
In beyond positive life talk poetical post random ramble
Beyond Positive #2: Kepada Para Perempuan yang Baru Patah Hati
Posted on Sunday, April 22, 2018
Wahai perempuan yang baru patah hati. Ini bukan
tentang apa yang salah pada dirimu.
Ini tentang
ditinggalkan berkali-kali namun tetap melihat bayangan di kaca itu sebagai
perempuan yang kau banggakan.
Bayangan itu
tidak berubah sama sekali.
Coba lihat
matanya. Memang, mungkin agak sembap, tapi bentuknya sama. Warnanya sama. Tetap
cokelat, tetap biru, tetap abu-abu. Apapun warnanya, dia indah. Selalu indah. Jangan
lihat kantung yang menggelap di bawah mata itu. Sedikit concealer bisa
mengoreksinya. Fokus pada mata itu. Pada sinarnya yang sedikit redup karena
hati pemiliknya sedang terluka. Sinar itu hanya pergi sementara. Mengelana mencari
sumber kebahagiaan lain. Biarkan. Dia akan kembali. Mata itu akan kembali
hidup. Coba terima rasa yang kau rasakan. Peluk sakitnya. Rengkuh lukanya.
Coba lihat
hidungnya. Tidak mancung, tidak pesek. Sedikit besar dan membulat. Tapi indah. Kamu
tidak perlu menyalahkan bentuknya. Kamu tidak perlu mengoreksinya. Kamu tidak
butuh suntik filler untuk membuatnya lebih tegak. Tidak. Kamu cukup seperti
ini. Kamu indah seperti ini. Kamu hanya perlu menerimanya. Memang, ujungnya
memerah sebab kau terlalu banyak mengusapnya, menghapus lendir yang keluar saat
kau menangis. Tak apa. Nikmati saja sakitnya. Resapi saja tiap perih yang
muncul.
Coba lihat
bibirnya. Tidak tipis, tidak tebal. Sedikit kecil dan asimetris. Tapi indah. Selalu
indah. Kamu mungkin tidak pernah tahu berapa banyak orang yang bahagia
mendengarmu berbicara. Mendengar kalimat yang keluar dari bibirmu itu. Bibirmu sempurna.
Kamu tidak butuh apa-apa untuk membuatmu merasa sempurna. Kamu sudah sempurna.
Lihat wajah
itu. Memerah sebab terlalu lama mengusap air mata. Tersedu. Hatinya patah. Hatinya
remuk. Tapi bayangan itu tidak berubah. Mata itu tetap sama seperti kemarin. Hidung
itu tetap sama seperti kemarin. Bibir itu selalu membuat orang jatuh cinta
padamu.
Biarkan dia
pergi. Biarkan.
Bukan dirimu
yang salah. Lihat bayangan itu. Lihatlah. Dia sempurna. Tubuhnya memang
dipenuhi lemak. Dipenuhi stretch mark. Tapi
itulah kesempurnaan yang kau miliki. Mungkin saat ini kau terlihat jelek. Biarkan
saja. Kau terlihat jelek karena kau sedang patah hati. Coba sekarang kamu pergi
ke kamar mandi, basuh tubuhmu, basuh wajahmu sekaligus semua air mata itu. Kenakan
baju terbaikmu. Kenakan riasan andalanmu. Kenakan sepatu yang paling kamu suka.
Lalu keluar lah. Lihat dunia.
Kamu pantas.
Kamu berharga.
Kamu sempurna.
Bukan salahmu
jika ia pergi. Bukan salahmu jika ia tidak bisa menerima kesempurnaanmu. Bukan salahmu,
sayang.
Perempuan yang
kau lihat setiap hari di kaca itu adalah dirimu. Dan kamu cantik. Kamu sempurna.
Biarkan dia pergi. Itu bukan salahmu. Bukan.
Berdamailah
sayang,
pada kedewasaan
yang kalian temukan
saat
terpisah.
Jika memang
kenyataan
selalu menegaskan
bahwa kalian
berbeda jalan,
maka terimalah.
Satu ke
utara, satu ke selatan
kalian memang
pernah bertemu di sebuah persimpangan
tapi itu
semua hanya kenangan.
Berdamailah
sayang,
semua ini
memang tidak akan bisa dipaksakan.
01.02.18 - @yustitiaayu
I see you every day
through the shiny screen of my cellular
you’re so far away
yet feels so close to the bone
I feel like I knew you
for a million days of our youth
while in reality, about you
I only know your name, and that’s
the truth
I won’t speak about your
perfection
‘cause it will sounds so cheesy
eventhough I have many words to
explain
what about you, that always make
me feel uneasy
Oh baby, I wish we could hold
each other to eternity.
I’m longing to the day,
when we could meet each other’s eyes,
saying our name while shaking hands,
for the first time.
And to the day,
that we dance to Sinatra,
dive into each other’s mind in silence,
we speak through our stare,
we listen through our heart beat,
chest to chest,
palm to palm,
consuming the absoluteness of time.
We know exactly what we want,
we know we complete each other’s flaw,
and we know that we mad for each other’s love.
But, is this real?
Is it enough to just love?
Is it okay to just declare that “I can’t live without you”
while we have a thousand rules to keep,
while we have a million eyes to please,
is it enough that we found each other?
Is it enough?
21.11.17 - @yustitiaayu
She's wondering
what it feels like to taste it again
the sparks on their fingertips when it touch each other
while they dance through the sound of lullaby
what the beat of their hearts that
met through their bare skin feels
while they hug each other sadness
and bring into the world, their love up to madness.
It's a lovely night, she thought
just like any other night she spend with
that face that sculpted with every fine detail
the soul of an angel that almost drawn her crazy
with its shine, with its softness
with him.
04.09.2017 - @yustitiaayu
Notes:
It's the first time that I wrote something that doesn't based on what I feel. I have a hard time writing it. But I learn.
what it feels like to taste it again
the sparks on their fingertips when it touch each other
while they dance through the sound of lullaby
what the beat of their hearts that
met through their bare skin feels
while they hug each other sadness
and bring into the world, their love up to madness.
It's a lovely night, she thought
just like any other night she spend with
that face that sculpted with every fine detail
the soul of an angel that almost drawn her crazy
with its shine, with its softness
with him.
04.09.2017 - @yustitiaayu
Notes:
It's the first time that I wrote something that doesn't based on what I feel. I have a hard time writing it. But I learn.
Kamu selalu jadi pengecualian,
selalu jadi yang paling mudah aku maafkan,
selalu jadi yang paling aku maklumi,
selalu jadi yang paling aku beri toleransi,
selalu jadi prioritas,
selalu jadi pendobrak batas.
Kamu selalu jadi yang paling mungkin,
tapi sekaligus jadi yang paling tidak mungkin.
Selalu jadi sumber pikiran positif,
tapi sekaligus jadi pelahir pikiran negatif.
Selalu jadi pemenang atas semua ego,
tapi sekaligus jadi penenang atas semua ambisi.
Selalu jadi pengubah arah tujuan,
tapi sekaligus jadi tujuan semua arah.
Selalu jadi pelemah prinsip,
tapi sekaligus jadi prinsip dalam lemah.
Singkat kata, kamu menguasaiku.
29.08.17 -@yustitiaayu
selalu jadi yang paling mudah aku maafkan,
selalu jadi yang paling aku maklumi,
selalu jadi yang paling aku beri toleransi,
selalu jadi prioritas,
selalu jadi pendobrak batas.
Kamu selalu jadi yang paling mungkin,
tapi sekaligus jadi yang paling tidak mungkin.
Selalu jadi sumber pikiran positif,
tapi sekaligus jadi pelahir pikiran negatif.
Selalu jadi pemenang atas semua ego,
tapi sekaligus jadi penenang atas semua ambisi.
Selalu jadi pengubah arah tujuan,
tapi sekaligus jadi tujuan semua arah.
Selalu jadi pelemah prinsip,
tapi sekaligus jadi prinsip dalam lemah.
Singkat kata, kamu menguasaiku.
29.08.17 -
The heart
that I always carry,
contains doubt
that comes in every breath
filled with
unrequited hope that burst in every step
red by its
own stream of blood
full of fear
comes from its own vessels
It is always
heavy,
it is always
busy.
It has no
rest,
it has no
guest.
But still, it’s
the most part you’ve ever touched.
And had.
The heart
that I always carry,
there’s the
day it consumes my soul with its darkness
there’s the
day it drowns my mind with its solitariness
But still, it’s
the heart that I always carry.
Cause it’s
the only thing that you still touch,
and have.
In poetical post random ramble
Posted on Friday, May 12, 2017
In poetical post random ramble
Posted on Friday, May 27, 2016
Mencintaimu ibarat waktu. Berputar tanpa tahu kapan harus berhenti. Tidak pernah terlambat, tidak pernah terlalu cepat. Kesalahan hanya datang jika energi sudah habis. Itu pun hanya sementara. Secepat mungkin ia akan kembali bergerak. Mengejar apa ia pun tidak tahu. Menuju kemana, ia tidak pernah tahu. Yang ia tahu, ia harus tetap hidup. Jika ia mati, dunia akan berhenti berputar.
Mencintaimu ibarat candu. Membawaku hilang dari dunia menuju ketidakwarasan. Sebentar tertawa, sebentar menangis. Sebentar tersenyum, sebentar merajuk. Tidak ada tempat untuk memikirkan hal lain, selain engkau dan perasaanku. Sibuk meracau dalam ketidakjelasan. Sekembalinya ke dunia, tubuh pun tidak sanggup melawan keinginan untuk kembali. Menjadi gila, menjadi hilang. Hanya dengan angan tentang kamu. Berdua.
Mencintaimu ibarat lara. Tidak direncanakan. Tidak diharapkan. Menetap dan sulit diusir. Rasanya menjalar melalui seluruh pembuluh darah. Mampir ke ubun-ubun dan merusak konsentrasi. Mengambil alih setiap kekuatan dan berbalik menyerang. Tidak akan reda sebelum penawarnya datang. Kadang menimbulkan bekas yang tak akan pernah hilang.
Mencintaimu ibarat hidup. Atas, bawah. Maju, mundur. Kuat, lemah. Silih berganti. Tidak pernah tahu kapan berakhir. Tidak pernah tahu siapa yang mengakhiri. Tidak pernah tahu bagaimana akhirnya. Terus berjalan untuk masa depan yang kabur. Terus berjuang untuk bertahan tanpa tahu apakah bertahan adalah keputusan yang benar. Terus mendaki tanpa tahu apakah di puncak akan kutemui engkau.
Mencintaimu adalah mati. Sakit. Sepi. Sendiri. Diam. Dan menyerah.
In poetical post random ramble
Posted on Monday, May 16, 2016
ada banyak pertanyaan
yang tak akan pernah mencapai jawaban
ada banyak angan-angan
yang akan terkubur bersama dengan kesendirian
pagi dan hampa adalah teman
malam dan diam adalah kawan
raut wajah dan senyum selalu bertentangan
terseok melangkah ke depan
tanpa tahu ke arah mana tujuan
mencoba tak peduli dengan keadaan
mencoba tak bergegas memberi perhatian
atau mencoba tak tergerak dengan keinginan
memeluk adalah impian
terlebih memiliki, bukan lagi jadi pilihan
mereka bilang mimpi bisa diperjuangkan
tapi tidak dengan hidup bersama tuan
sudah tak berani mengharapkan
walau sekedar sapa dan teguran
apalagi pertemuan
sudah kuanggap semua percakapan
yang terjadi waktu itu adalah perpisahan
dan aku bisa mempersempit penyesalan
karena sudah pernah kubuat pengakuan
aku ingin menjadi orang yang kau cintai
Ia berdiri kuat
berjalan tanpa ragu
tersenyum pada semua orang
memeluk setiap kesempatan
memimpikan setiap kebahagiaan.
Hingga suatu hari
kakinya patah satu
ia masih kuat berdiri
meski terpincang ia masih mampu berjalan
saat menjemput kesempatannya yang baru
satu kakinya patah pula.
Ia limbung
jatuh pada lututnya
tak ada lagi kaki yang mampu menopang beratnya hidup
ia hanya mampu merangkak
satu satu
perlahan tanpa arah.
Ia sudah menyerah
takdir tak pernah berbaik hati padanya
dunia tidak pernah berdamai dengannya
ia hidup tanpa harapan untuk bahagia
ia hidup hanya untuk orang lain
bukan untuk dirinya.
Kapalnya tak akan pernah berlabuh
karam di tengah pelayarannya menuju dermaga
hartanya hilang disapu ombak
bercampur pasir dan buih
ia, tak akan pernah sampai pada tujuannya.
Ia tidak menunggu siapa-siapa
ia menyerah
ia lelah merasa kuat
ia lelah merangkak
tolonglah, biarkan ia hidup dengan caranya sendiri.
07 Mei 2016.
Senandika Ayu, sudah menyerah.
berjalan tanpa ragu
tersenyum pada semua orang
memeluk setiap kesempatan
memimpikan setiap kebahagiaan.
Hingga suatu hari
kakinya patah satu
ia masih kuat berdiri
meski terpincang ia masih mampu berjalan
saat menjemput kesempatannya yang baru
satu kakinya patah pula.
Ia limbung
jatuh pada lututnya
tak ada lagi kaki yang mampu menopang beratnya hidup
ia hanya mampu merangkak
satu satu
perlahan tanpa arah.
Ia sudah menyerah
takdir tak pernah berbaik hati padanya
dunia tidak pernah berdamai dengannya
ia hidup tanpa harapan untuk bahagia
ia hidup hanya untuk orang lain
bukan untuk dirinya.
Kapalnya tak akan pernah berlabuh
karam di tengah pelayarannya menuju dermaga
hartanya hilang disapu ombak
bercampur pasir dan buih
ia, tak akan pernah sampai pada tujuannya.
Ia tidak menunggu siapa-siapa
ia menyerah
ia lelah merasa kuat
ia lelah merangkak
tolonglah, biarkan ia hidup dengan caranya sendiri.
07 Mei 2016.
Senandika Ayu, sudah menyerah.
Siapa kita?
Siapa aku?
Aku pernah berusaha, dengan jiwa dan raga.
Sampai akhirnya bertemu pada titik dimana ragaku sudah mati.
Tersisa jiwa yang dalam diam masih berharap.
Untuk apa?
Untuk aku?
Untuk sepotong cerita di masa depan.
Untuk menghindar dari rasa bersalah,
penyesalan,
kerinduan,
keinginan untuk kembali di tahun nanti.
Aku siapa?
Aku jiwa yang pernah memiliki,
pernah berdiri di sisi,
pernah memeluk mimpi,
pernah ditinggalkan, tidak hanya sekali.
Gilakah aku?
Gilakah mengejar keinginan yang pernah terpendam oleh waktu?
Kamu siapa?
Rupa yang hadir di pencarianku,
meninggalkan jejak, tak pernah hilang.
Ada apa dengan engkau?
Mengapa kau bisa buat aku sebegininya?
Siapa kamu?
Kalau bukan kamu, lalu aku tidak tahu.
Dan tidak mau.
04 Mei 2016.
Senandika Ayu, sedang merindu.
Siapa aku?
Aku pernah berusaha, dengan jiwa dan raga.
Sampai akhirnya bertemu pada titik dimana ragaku sudah mati.
Tersisa jiwa yang dalam diam masih berharap.
Untuk apa?
Untuk aku?
Untuk sepotong cerita di masa depan.
Untuk menghindar dari rasa bersalah,
penyesalan,
kerinduan,
keinginan untuk kembali di tahun nanti.
Aku siapa?
Aku jiwa yang pernah memiliki,
pernah berdiri di sisi,
pernah memeluk mimpi,
pernah ditinggalkan, tidak hanya sekali.
Gilakah aku?
Gilakah mengejar keinginan yang pernah terpendam oleh waktu?
Kamu siapa?
Rupa yang hadir di pencarianku,
meninggalkan jejak, tak pernah hilang.
Ada apa dengan engkau?
Mengapa kau bisa buat aku sebegininya?
Siapa kamu?
Kalau bukan kamu, lalu aku tidak tahu.
Dan tidak mau.
04 Mei 2016.
Senandika Ayu, sedang merindu.
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)


